lebih dari 100 hari kepergian bapak, tapi rasanya bapak masih ada. namun kini aku lebih ikhlas karena beliau sudah tidak merasakan sakit lagi, aku ingat sekali waktu itu 17 hari merawat beliau seorang diri sebagai seorang yang merawat saja aku sudah merasakan ketidaknyamanan yang luar biasa apalagi beliau yang menyiapkan mental akan di operasi.
selama kepergian bapak aku mengalami bannyak kejadian yang luar biasa hebatnya dari awal ramadhan 2026 saat aku di rawat inap di RSJ karena stress kerja menjadi seorang barista yang padahal itu adalah cita cita ku waktu SMA sampai kepergian bapak. untungnya aku memiliki tetangga yang suportif kala itu mereka mengerti betul bagaimana keadaan ku dan aku rasa tinggal di kampung bukanlah hal yang buruk, semua tetanggaku berperan menjadi ibu untukku dari memasakkan botok (masakan khas jawa) yang sering di masak alm ibuku, memberikan aku brownis kesukaan ku sampai mengajari aku cara masak semur seperti yang sering di masak bapak untukku.
kini aku sadar tentang duka dan air mata, kepergian bapak mengantarkan ku ke babak baru kehidupan dimana semua akan hilang dan lagi lagi kita tetaplah sendirian. sungguh banyak kejadian dan pelajaran yang ku dapatkan selama memasuki babak duka namun aku lebih lega kali ini karena di tengah kesakitan yang di alami bapak beliau sudah tidak sakit lagi dan tidak perlu stress berpikir masa depan anaknya yang nakal ini karena seperti makhluk bebas lainnya sistem mendidik anak yang bapak terapkan padaku berbeda dengan anak perempuan yang lain jadi aku paham betul beliau kewalahan mengurus aku seorang diri.
selama berduka aku berhenti menggunakan handphone selain sebagai masa penyembuhan pasca keluar dari RSJ aku ingin menghindari duka yang mendalam karena sosial media. karena memiliki lingkungan rumah yang kini telah melek gangguan mental aku perlahan mulai merasa sembuh walaupun tidak sepenuhnya, aku menghibur diriku sendiri dengan cara bermain bola kasti, petak umpet, margala dan permainan rakyat lainnya dengan anak anak di sekitar rumahku dan terkadang bercengkrama dengan beberapa ibu ibu di sekitar rumahku.
kini aku kembali menjadi makhluk bebas dan dapat menentukan sendiri ingin apa aku selanjutnya, seorang deby terlahir kembali pasca keterpurukannya yang berkali kali jatuh itu namun kini ia bangkit lagi dan mencoba tidak kalah oleh dunia, kalimat yang selalu menjadi afirmasi dalam diriku adalah "selamat pagi dewasa aku siap menjalani hari ini".